BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masyarakat Batak, adalah salah satu masyarakat Indonesia yang berada di
kawasan Sumatra. Setiap masyarakat pastilah memiliki kebudayaan yang berbeda
dengan masyarakat lainnya yang menjadi penanda keberadaan suatu masyarakat /
suku. Begitu juga dengan masyarakat Batak yang memiliki karekteristik
kebudayaan yang berbeda.
Keunikan kharakteristik suku Batak ini tercermin dari kebudayaan yang
mereka miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya.
Adat-istiadat seperti upacara
kelahiran, upacara pernikahan, upacara kematian, norma, dan kebiasaan-kebiasaan
juga merupakan jati diri suku bangsa Batak, yang membedakan suku bangsa ini
dengan suku bangsa lain.
Suku Batak
dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk
dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas Nasional
yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita dalam hal
kebudayaan.
B. RUMUSAN MASALAH
Untuk memudahkan dalam penulisan dan pemahaman makalah ini, maka penulis
merumuskan beberapa hal yang bersangkutan dengan kebudayaan masyarakat Batak
yaitu :
1. Bagaimana Sejarah Suku Batak ?
2. Bagaimana Kebudayaan (ADAT) Suku Batak ?
3. Apa-Apa Saja Unsur Kebudayaan dan Organisasi Sosial suku
Batak ?
4. Apa-Apa Saja Nilai Budaya Masyrakat Batak ?
C. TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan
dari makalah ini yaitu :
1. Agar pembaca dapat mengetahui Sejarah suku Batak.
2. Agar pembaca dapat memahami adat suku Batak
3. Agar pembaca tahu unsur kebudayaan dan organisasi
sosial suku Bata
4. Agar pembaca mengerti nilai budaya suku Batak
BAB I
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH SUKU
BATAK
Versi sejarah
mengatakan si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke
Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula
Mula, lebih kurang 8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba
sekarang.Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo
berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.
Diperkirakan
Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja
XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat
1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20. Batu bertulis
(prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru
Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan
COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang
TAMIL di Barus. Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai
daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di
sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.
B.
ADAT
Adat adalah
bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa
maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau
dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau
mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting
nya seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain .
Orang Batak
mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:
5. Adat
Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan
penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak
berubah).
6. Adat Na
taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan
agama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada
adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas
menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya
dari Dewata.
7. Adat Na
niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan
adat na taradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan
hubungan adat dengan Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam
dll)yang dipandang sebagai adat, yang justru bertentangan dengan agama asli
Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).
Berdasarkan
ketiga tingkatan adat tersebut diatas. Adat yang sekarang dilakoni orang Batak
adalah Adat tingkat kedua. Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah
mendekati tyingkat ketiga. Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar
dilakukan
C.
UNSUR BUDAYA DAN ORGANISASI
SOSIAL
1.
Unsur Budaya
a. Bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak
menggunakan beberapa logat:
1. Logat
Karo yang dipakai oleh orang Karo;
2. Logat
Pakpak yang dipakai oleh Pakpak;
3. Logat
Simalungun yang dipakai oleh Simalungun;
4.
Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan
Mandailing.
Bahasa Batak bisa dibagi menjadi beberapa kelompok:
1. Bahasa Batak Utara
o
Bahasa Alas
o
Bahasa Karo
2. Bahasa Batak Selatan
o
Bahasa Angkola-Mandailing
o
Bahasa Pakpak-Dairi
o
Bahasa Simalungun
o
Bahasa Toba
b. Teknologi
Masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana
yang dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul,
bajak (tenggala dalam bahasa Karo), tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo),
sabit (sabi-sabi) atau ani-ani. Masyarakat Batak juga memiliki senjata
tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah
keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang).
Unsur teknologi lainnya yaitu kain ulos yang merupakan kain tenunan yang
mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.
2. Organisasi
Sosial
a.
Pernikahan
Garis besar tata cara dan urutan pernikahan adat batak Na Gok
adalah sebagai berikut:
1.
Mangarisika.
2.
Marhori-horiDinding/marhusip
3.
MarhataSinamot.
4.
Pudun Sauta.
5.
Martumpol (baca : martuppol)
6.
Martonggo Raja atau Maria Raja.
7.
Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
8.
Pesta Unjuk.
9.
Mangihut di ampang (dialap jual)
10. Ditaruhon
Jual.
11. Paranak
makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
12. Paulak
Unea.
13. Manjahea.
14. Maningkir
Tangga (baca : manikkir tangga)
b. Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku
bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut
istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula
kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan
pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya
nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam
dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup
tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya
melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya,
Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu : (a)
perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan sifat
keaslian dan (d) status kawin.
c. Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat
batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian
yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak boleh
menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan.
Perternakan juga salah satu
mata pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi,
kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk
disekitar danau Toba. Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman
rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata.
d.
Kepercayaan
Pada abad 19 agama islam
masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan . Agama kristen masuk sekitar
tahun 1863 yang disiarkan oleh para Missionaris dari Jerman yang bernama
Nomensen dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak
sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mempertahankan konsep asli
religi penduduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta
beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal
diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya .
Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha
pencipta; Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus.
Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:
1.
Tondi : jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan,
oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak
seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang
tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput)
tondi dari sombaon yang menawannya.
2.
Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang.
Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala
sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau
hula-hula.
3.
Begu adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah
lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.
Beberapa begu
yang ditakuti oleh orang Batak, yaitu:
·
Sombaon, yaitu begu yang bertempat
tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan mengerikan.
·
Solobean, yaitu begu yang dianggap
penguasa pada tempat tempat tertentu
·
Silan, yaitu begu dari nenek
moyang pendiri hutan/kampung dari suatu marga
·
Begu Ganjang, yaitu begu yang sangat
ditakuti, karena dapat membinasakan orang lain menurut perintah pemeliharanya.
Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru
Hutabarat, dimana boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa
wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.
e.
Kesenian
Seni
Tarian
Seni tari
Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual
keagamaan. Menari juga dilakukan dalam acara gembira seperti sehabis panen,
perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan). Acara pesta
adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap),
erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur)
pada zaman dahulu. Contohnya seni Tari Tor-tor (bersifat magis). Didalam menari
setiap penari harus memakai Ulos.
Orang Batak
mempergunakan alat musik/ Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri
dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengkap dan
bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan
alat kelima yang dinamakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah.
Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah.
Menari juga
dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga
atau orang tua yang meninggal, tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa seni
tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal
tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat
hatinya dalam bentuka tarian, sering taruian ini dilakukan pada saat bulan
Purnama. Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunaka sebagai sarana penyampaian
batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati
(tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.
Seni arsitektur
Rumah adat
Siwaluh Jabu, rumah adat Batak Karo. Rumah ini bertiang tinggi
dan satu rumah biasanya dihuni atas satu keluarga besar yang terdiri dari 4
sampai 8 keluarga Batak. Di dalam rumah tak ada sekatan satu ruangan lepas.
Namun pembagian ruangan tetap ada, yakni dibatasi oleh garis-garis adat
istiadat yang kuat, meski garis itu tak terlihat. Masing-masing ruangan
mempunyai nama dan siapa yang harus menempati ruangan tersebut, telah
ditentukan pula oleh adat.
Fungsi utama
dari ujung atap yang menonjol ini adalah untuk memungkinkan asap keluar dari
tungku dalam rumah. Pada bagian depan dan belakang rumah adalah panggung besar
yang disebut ture, konstruksinya sederhana dari potongan bambu melingkar dengan
diameter 6 cm. Panggung ini dugunakan untuk tempat mencuci, menyiapkan makanan,
sebagai tempat pembuangan (kotoran hewan) dan sebagai ruang masuk utama. Jalan
masuk menuju ture adalah tangga bambu atau kayu.
D.
NILAI
BUDAYA
1.
Tarombo
Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting
bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap
sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak khusunya kaum
Adam diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan
marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan
agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu
klan atau marga.
2.
Kekerabatan
Nilai
kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na
Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang
dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang
menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan
gadis disebut Boru.
3.
Hagabeon
Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak,
dan yang baik-baik.
4. Hamoraan
Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek
spiritual dan meterial.
5. Uhum dan ugari
Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan
keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
6. Pengayoman
Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut
di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masyarakat Batak, adalah salah satu masyarakat
Indonesia yang berada di kawasan Sumatra. Setiap masyarakat pastilah memiliki
kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat lainnya yang menjadi penanda
keberadaan suatu masyarakat / suku. Begitu juga dengan masyarakat Batak yang
memiliki karekteristik kebudayaan yang berbeda.
Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:
1. Adat
Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan
penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif
(tidak berubah).
2. Adat Na
taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan
agama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada
adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas
menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya
dari Dewata
3. Adat Na
niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan
adat na taradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan
hubungan adat dengan Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam
dll)yang dipandang sebagai adat, yang justru bertentangan dengan agama asli
Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).
NILAI
BUDAYA :
1. Tarombo
Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan
dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak khusunya
kaum Adam diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang
menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini
diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu
klan atau marga.
2. Kekerabatan
Nilai
kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na
Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang
dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang
menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan
gadis disebut Boru.
3. Hagabeon
Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak,
dan yang baik-baik.
4.
Hamoraan
Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek
spiritual dan meterial.
5.
Uhum dan ugari
Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan
keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
6.
Pengayoman
Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut
di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
B.
SARAN
Kebudayaan yang dimiliki suku Batak ini menjadi salah satu kekayaan yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga kelestariannya. Dengan
membuat makalah suku Batak ini diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh
mengenai kebudayaan suku Batak tersebut dan dapat menambah wawasan serta
pengetahuan yang pada kelanjutannya dapat bermanfaat dalam dunia kependidikan
DAFTAR PUSTAKA
http://ksupointer.
Com/2009/ suku batak/

No comments:
Post a Comment